Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperluas jejaring internasional melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Uzbekistan. Dalam kunjungan yang berlangsung pada 5-10 Mei 2026 itu, Fakultas Kedokteran (FK) UMS menjadi salah satu fokus utama kolaborasi, mulai dari pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, hingga pengembangan fakultas kedokteran internasional.
Delegasi UMS dipimpin Wakil Rektor I Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D. bersama Sekretaris Universitas Andy Dwi Bayu Bawono, S.E., M.Si., Ph.D., Kasubdit Pengembangan Kemitraan Akademik dan Mobilitas Direktorat Reputasi, Kemitraan, dan Urusan Internasional (DRKUI) UMS Hepy Adityarini, S.Pd., M.A., Ph.D., serta Dekan FK UMS Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.DVE., Dipl. STD-HIV/AIDS., FINSDV., FAADV.
Flora menjelaskan, kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari inisiasi kolaborasi perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dengan sejumlah institusi di Uzbekistan yang telah dirintis sejak dua tahun lalu.
“Selain itu, sama-sama institusi di negara dengan mayoritas penduduk muslim dan sama-sama developing country yang aggressive for progressive,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (13/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, UMS menjalin kerja sama dengan sejumlah kampus negeri maupun swasta di Uzbekistan. Salah satunya Tashkent State Medical University yang telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama UMS.
Kerja sama yang dijajaki meliputi pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, konferensi internasional, hingga kolaborasi riset, publikasi, dan pengabdian masyarakat. “Kedua kampus berencana saling berkontribusi dalam pengelolaan jurnal ilmiah, baik sebagai editor, tim redaksi, maupun reviewer,” tambah Flora.
Kolaborasi serupa juga dilakukan dengan Bukhara State Medical Institute Named After Abu Ali Ibn Sino serta Zarmed International Medical University. Kampus tersebut telah menandatangani MoU dengan UMS untuk pengembangan kerja sama di bidang pertukaran mahasiswa dan dosen, konferensi internasional, serta kolaborasi tridharma perguruan tinggi.
UMS pun mendapat kepercayaan membantu pengembangan fakultas kedokteran baru di Bukhara University of Innovation. “Keduanya sudah signing nota kesepahaman (MoU) dan meminta dibantu mendirikan fakultas kedokteran, terutama yang berkaitan dengan kurikulum, tata kelola, serta SDM,” jelasnya.
Menurut Flora, pengembangan fakultas kedokteran tersebut masih membutuhkan beberapa tahapan lanjutan, termasuk terkait perizinan klinik, rumah sakit pendidikan, penyediaan sarana prasarana, hingga penguatan sumber daya manusia.

Sementara itu, kerja sama dengan Zarmed International Medical University difokuskan pada penguatan pendidikan kedokteran internasional. Kedua kampus sepakat menjalin kolaborasi pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, riset, publikasi ilmiah, konferensi internasional, serta pengembangan pengabdian masyarakat.
Dirinya menilai kerja sama internasional tersebut menjadi langkah strategis untuk memperluas jejaring UMS hingga kawasan Asia Tengah sekaligus memperkuat internasionalisasi Tridharma Perguruan Tinggi.
“Ini akan memperbesar pencapaian indikator tridharma, khususnya dalam hal internasionalisasi. Selain itu juga mempertinggi helicopter view serta mengasah soft skills civitas academica FK UMS,” jelas Flora.
Selain peluang kolaborasi, Flora juga melihat karakteristik unik pendidikan tinggi di Uzbekistan. Menurutnya, sejumlah universitas di negara tersebut memiliki fokus khusus pada bidang tertentu, termasuk pendidikan kedokteran.
“Ada dua jenis pendidikan kedokteran, nasional dan internasional. Mahasiswa internasional kebanyakan berasal dari Asia Selatan,” pungkasnya.
Rangkaian kunjungan delegasi UMS ke Uzbekistan kemudian ditutup dengan pertemuan bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Uzbekistan. Dalam kesempatan tersebut, Dubes RI menyampaikan dukungannya terhadap penguatan kerja sama internasional yang dijalin UMS dengan berbagai institusi pendidikan di Uzbekistan. (GE)