Surakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) berhasil meraih akreditasi internasional dari Indonesian Accreditation Agency for Higher Education in Health-International (IAAHEH-INT) dengan status Fully Accredited selama delapan tahun hingga 22 Mei 2034. Capaian tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan FK UMS menuju institusi pendidikan kedokteran berstandar global.
Program Studi Sarjana Kedokteran dan Profesi Dokter FK UMS dinyatakan telah memenuhi standar mutu pendidikan internasional yang ditetapkan IAAHEH-INT. Menempatkan FK UMS sebagai salah satu fakultas kedokteran terbaik di Indonesia yang berhasil memperoleh akreditasi penuh dari lembaga tersebut.
Dekan FK UMS, Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.DVE., Dipl. STD-HIV/AIDS., FINSDV., FAADV., menyampaikan rasa syukur atas capaian FK UMS yang diraih melalui proses panjang.
“Alhamdulillah, berkat rahmat Allah SWT FK UMS berhasil memperoleh akreditasi internasional IAAHEH dengan status fully accredited selama delapan tahun. Ini adalah hasil kerja keras seluruh tim, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, rumah sakit pendidikan, hingga berbagai pihak yang telah mendukung proses ini sejak awal,” ujarnya saat diwawancarai pada Senin (8/6/2026).
Menurut Flora, salah satu faktor yang menjadi keunggulan FK UMS dalam proses akreditasi ialah konsistensi penerapan nilai kedokteran keluarga dan keislaman dalam seluruh aspek Catur Dharma Perguruan Tinggi. Nilai tersebut tak hanya menjadi visi institusi, tetapi juga tercermin dalam proses pembelajaran, penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, hingga kerja sama internasional.
“Kedokteran keluarga dan keislaman ini benar-benar menjadi nafas dalam kegiatan akademik. Yang dinilai bukan hanya visinya, tetapi implementasi dan output yang dihasilkan,” kata Flora.

Ia mengungkapkan perjalanan menuju akreditasi internasional tidak berlangsung mudah. Pada awal 2024, FK UMS telah mempersiapkan diri untuk mengikuti akreditasi internasional dengan instrumen berbeda.
Sayangnya di tengah-tengah proses, regulasi berubah sehingga fakultas harus beradaptasi dan beralih menggunakan instrumen IAAHEH. “Tantangan terbesarnya adalah ketika kami sudah mempersiapkan satu instrumen akreditasi, kemudian harus beralih ke instrumen lain. Selain itu, karena lembaga ini masih relatif baru, instrumennya juga cukup dinamis. Menjaga semangat tim dalam situasi seperti itu tentu tidak mudah,” imbuhnya.

Meski demikian, Flora menilai seluruh tim FK UMS mampu menunjukkan sikap adaptif, tangguh, dan kolaboratif sehingga proses akreditasi dapat dilalui dengan baik. Flora menyebut keberhasilan ini menjadi bukti bahwa budaya mutu telah tumbuh kuat di lingkungan FK UMS.
FK UMS menargetkan penguatan berbagai program strategis. Target ini meliputi pengembangan program doktoral dan peningkatan kiprah internasional di bidang pendidikan, penelitian, serta pengabdian masyarakat ke depannya.
“Harapannya setelah akreditasi internasional ini, seluruh civitas academica bisa semakin konsisten, semakin melesat, dan semakin go global. Saya yakin hasil tidak akan pernah mengkhianati proses. Ketika kita bekerja sungguh-sungguh dan all out, Insyaallah cita-cita yang besar dapat tercapai,” tutupnya. (GE)