Kedokteran

Senjata Sederhana Melawan Kusta

ditulis pada
01 Juni 2026

Di banyak tempat, kusta masih kerap dipandang sebagai penyakit yang menakutkan. Bukan semata karena infeksinya, melainkan karena jejak yang ditinggalkannya.

Tangan yang mengalami kecacatan, telapak kaki yang terluka, atau perubahan bentuk wajah kerap membuat penyandang kusta dijauhi lingkungan sekitar. Meski kusta dapat disembuhkan, penyakit ini belum sepenuhnya hilang dari Indonesia.

Dilansir dari web Kemkes.go.id, pada 2024 tercatat 14.698 kasus baru kusta di Indonesia. Lebih dari 90 persen di antaranya merupakan tipe Multi Basiler (MB) yang memiliki tingkat penularan lebih tinggi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.420 kasus atau 9,7 persen terjadi pada anak-anak, sementara 869 kasus atau 5,9 persen ditemukan dalam kondisi telah mengalami disabilitas.

Angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan penanganan kusta tak hanya terletak pada pengobatan, tetapi juga deteksi dini dan pencegahan komplikasi yang dapat berujung pada kecacatan permanen.

Pesan itulah yang dibawa Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.DVE., Dipl.STD-HIV/AIDS., FINSDV., FAADV., saat menjadi narasumber dalam Bakti Sosial, Workshop, dan Simposium Nasional LEPRIMA 2026 (Leprosy Prevention and Integrated Management Approach) di Cibinong, Bogor, pada 30-31 Mei 2026.

Ketika Kulit Kehilangan Alarm Alaminya

Dalam paparan Flora yang berjudul “Skin Care in Leprosy Patient: Promoting Optimal Skin Health and Enhancing Quality of Life”, ia menekankan perjuangan melawan kusta tidak berhenti pada pemberian obat.

“Perawatan kulit pada pasien kusta penting karena pada pasien kusta terjadi kekeringan kulit akibat kerusakan saraf otonom,” ujarnya saat pemaparan materi.

Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.DVE., Dipl.STD-HIV/AIDS., FINSDV., FAADV. saat menjelaskan perjuangan melawan kusta tidak berhenti pada pemberian obat. Dok.Pribadi

Kerusakan saraf tersebut menyebabkan kulit kehilangan kemampuan normal untuk menjaga kelembapan. Pada saat yang sama, kerusakan saraf sensoris membuat pasien kehilangan sensasi atau kemampuan merasakan nyeri, panas, maupun tekanan.

Kondisi ini menjadi kombinasi yang berbahaya. “Pasien kusta yang kulitnya kering, pecah-pecah, dan mati rasa rentan mengalami luka pada daerah yang banyak mendapatkan tekanan dan trauma, terutama di telapak kaki, siku, kaki, dan tangan,” jelas Flora. Luka yang awalnya kecil acap kali berkembang menjadi lebih besar karena tidak disadari oleh pasien.

Ketika seseorang tidak dapat merasakan nyeri, tubuh kehilangan sistem peringatan alaminya. Akibatnya, luka dapat terus memburuk hingga menyebabkan infeksi serius dan kecacatan permanen.

“Inilah sebabnya mengapa perawatan kulit menjadi bagian penting dalam tata laksana pasien kusta,” kata dia.

Empat Langkah Sederhana yang Menyelamatkan

Menurut Flora, tantangan terbesar dalam eliminasi kusta saat ini bukan hanya membunuh bakteri penyebab penyakit, yaitu Mycobacterium leprae. Tantangan yang tidak kalah besar adalah mengatasi stigma dan diskriminasi yang masih melekat pada penyandang kusta.

“Stigma masih bertahan karena pada pasien kusta yang sudah berat terjadi kecacatan yang tidak bisa kembali lagi atau irreversible,” katanya.

Masyarakat sering kali melihat kecacatan tersebut sebagai identitas penyakit, tanpa memahami bahwa kondisi itu sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dan pengobatan dini.

Karena itu, edukasi menjadi langkah pertama yang harus diperkuat. Flora menegaskan pentingnya menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat bahwa kusta dapat disembuhkan, pengobatannya tersedia secara gratis, dan pasien yang sudah mendapatkan terapi tidak lagi menularkan penyakitnya.

Selain edukasi, pasien juga perlu dibekali keterampilan merawat diri secara mandiri. Prinsip sederhana ini Flora sebut sebagai 4B.

Langkah pertama adalah bersihkan. Pasien dianjurkan merendam tangan dan kaki selama sekitar 20 menit setiap hari menggunakan air hangat dan pembersih yang lembut.

“Bersihkan dengan cara merendam tangan dan kaki selama 20 menit per hari menggunakan air hangat dan sabun bayi batangan. Sambil digosok perlahan menggunakan sikat halus atau batu apung,” terang Flora.

Setelah itu, pasien perlu melakukan langkah kedua, yaitu basahi. Kulit yang masih lembap sebaiknya segera diberikan pelembap agar kelembapan terkunci dengan baik.

“Basahi kulit saat masih basah dengan pelembap, misalnya minyak kelapa atau pelembap yang mengandung glycerin, panthenol, dan niacinamide,” ujarnya.

Langkah ketiga adalah baca kulit. Istilah ini merujuk pada inspeksi mandiri untuk memeriksa apakah terdapat luka pada area tubuh yang sering mengalami tekanan atau gesekan.

“Dilihat sambil diraba apakah ada luka di daerah yang sering mengalami tekanan dan trauma, lalu segera dilaporkan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pengobatan,” katanya.

Sementara langkah keempat adalah beri proteksi. Pasien perlu menggunakan alas kaki dan sarung tangan untuk melindungi bagian tubuh yang rentan mengalami cedera.

Bagi Flora, perawatan kulit bukan sekadar urusan kesehatan fisik. Di balik rutinitas sederhana itu tersimpan upaya menjaga fungsi tubuh, kemandirian, bahkan harga diri pasien.

Simple skin care saves skin, function, and dignity,” tegasnya.

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa setiap tindakan kecil dalam merawat kulit dapat membantu seseorang tetap bekerja, beraktivitas, dan berinteraksi dengan masyarakat tanpa kehilangan rasa percaya diri.

Namun, upaya eliminasi kusta tidak bisa dibebankan kepada pasien seorang diri. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara tenaga kesehatan, keluarga, komunitas, pemerintah, dan masyarakat luas.

“Perlu kolaborasi kuat antara klinisi, komunitas, keluarga pasien kusta, kementerian kesehatan, dinas kesehatan, perawat kusta, hingga penyuluh kesehatan masyarakat supaya kita bisa melakukan diagnosis sedini mungkin,” ujar Flora.

Menurutnya, diagnosis dini melalui pengenalan bercak mati rasa, kerusakan saraf tepi, dan pemeriksaan penunjang dapat mempercepat pengobatan sekaligus mencegah penularan kepada orang-orang terdekat.

Ketika pasien ditemukan lebih awal, peluang sembuh meningkat dan risiko kecacatan dapat ditekan. Dengan demikian, stigma yang selama ini membayangi penyandang kusta juga perlahan dapat dihapus. (GE)

Artikel Terkait

FK UMS dan FK UMMAT Gelar Workshop Literature Review, Dorong Pemanfaatan AI untuk Riset Berkualitas

Surakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) berkolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Mataram (FK UMMAT) menyelenggarakan Workshop Literature Review di Hotel Novotel Solo, Rabu (10/6/2026). Kegiatan bertujuan meningkatkan kompetensi akademik dan kemampuan penelitian dosen, khususnya dalam menyusun literature review yang sistematis, berkualitas, dan berbasis bukti ilmiah. Workshop diikuti dosen dari kedua institusi […]

Benarkah Homoseksual Lebih Berisiko Terjangkit IMS?

Kasus homoseksual di Solo mencuat setelah muncul laporan masyarakat terkait dugaan aktivitas transaksi seksual sesama pria di kawasan Taman Sriwedari. Informasi tersebut bahkan mendapat perhatian dari aparat pemerintah daerah yang mengaku telah melakukan pemantauan rutin terhadap lokasi tersebut. Pewartaan Tribun Jateng menyebutkan, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surakarta Didik Anggono telah lama […]

Forum Forensik Regional Digelar di FK UMS

Surakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) menjadi tuan rumah Pertemuan Ilmiah Regional (PIR) Perhimpunan Dokter Forensik dan Medikolegal Indonesia (PDFMI) Cabang Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Joglosepur) 2026 yang digelar pada Sabtu (6/6/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Integrating Forensics into Medical Dispute Mitigation” dan diikuti sekitar 150 peserta secara luring maupun […]