Surakarta – Alumni Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dr. Hasmeinda Marindratama, mencatatkan prestasi membanggakan setelah dinyatakan lolos seleksi Program Pendidikan Dokter Subspesialis (PPDS) Spine Surgery atau Subspesialis Orthopaedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair).
Hasmeinda menjadi alumni FK UMS pertama yang berhasil diterima pada program pendidikan subspesialis tersebut. Keberhasilan itu diraih melalui jalur mandiri setelah melewati serangkaian proses seleksi yang berlangsung ketat, mulai dari seleksi administrasi, ujian komprehensif, hingga wawancara.
Dirinya mengatakan, memilih jalur mandiri merupakan bentuk kesungguhan untuk terus meningkatkan kompetensi sebagai dokter spesialis ortopedi.
“Proses penerimaan PPDS Subspesialis Orthopaedi dan Traumatologi FK Unair melalui rangkaian seleksi bertahap yang ketat, meliputi seleksi berkas, ujian komprehensif, dan wawancara. Dalam proses tersebut saya menempuh jalur mandiri sebagai bentuk komitmen dan investasi dalam pengembangan keilmuan,” ujarnya, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, pendidikan subspesialis menjadi langkah penting agar dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal bagi pasien, khususnya di bidang bedah tulang belakang yang terus berkembang.
Ketertarikannya mendalami bidang spine surgery berawal dari pengalaman klinis selama bertugas di Rumah Sakit Ortopedi Soeharso Surakarta. Di rumah sakit rujukan nasional tersebut, ia menangani berbagai kasus kelainan maupun trauma tulang belakang di bawah bimbingan mentornya, DR. dr. Romaniyanto, Sp.OT. (K).
Pengalaman itu membuka pandangannya mengenai besarnya dampak keterlambatan penanganan terhadap kualitas hidup pasien.
“Saya menyaksikan secara langsung bagaimana keterlambatan atau ketidaktepatan tata laksana dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien, bahkan berisiko menimbulkan kecacatan permanen. Dari situ tumbuh kesadaran bahwa kompetensi khusus di bidang spine sangat dibutuhkan,” jelasnya.
Hasmeinda menambahkan, kebutuhan dokter dengan kompetensi subspesialis tulang belakang di Indonesia masih belum merata, terutama di luar Pulau Jawa. Di sisi lain, angka kasus trauma maupun penyakit degeneratif tulang belakang terus meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup masyarakat.
Karena itu, ia berkomitmen membawa ilmu yang diperoleh selama pendidikan subspesialis kembali ke institusi tempatnya mengabdi.
“Melalui pendidikan subspesialis ini, saya berkomitmen membawa kembali ilmu tersebut ke institusi asal untuk memperkuat layanan spine tingkat lanjut sekaligus berkontribusi dalam jejaring rujukan nasional sebagai upaya pemerataan akses pelayanan kesehatan tulang belakang di Indonesia,” tuturnya.
Bagi Hasmeinda, keberhasilan menembus program subspesialis bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar untuk terus belajar dan mengabdi kepada masyarakat.
Ia pun berpesan kepada mahasiswa maupun alumni FK UMS agar tidak takut menetapkan cita-cita tinggi dalam dunia pendidikan.
“Perjalanannya mungkin penuh tantangan dan memakan waktu yang tidak singkat, namun persiapan yang matang, konsistensi, serta niat tulus untuk bermanfaat bagi sesama akan selalu memudahkan langkah. Teruslah menempa diri dan berproses tanpa lelah,” pesannya. (GE)