Mengenal PharmaSwift
Di tengah tantangan pelayanan farmasi yang dituntut semakin cepat dan aman, enam mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan sebuah inovasi yang bisa memangkas lamanya antrean pasien untuk mendapatkan obat setelah berkonsultasi dengan dokter. Mereka adalah Faiz Rafif Al Erza (Program Studi Kedokteran), Satria Gemilang Kusuma Perdana dan Muhammad Akmal Indratma (Program Studi Teknik Mesin), Bilqis Khans (Program Studi Teknik Industri), Maulia Hidayah (Program Studi Ilmu Gizi), serta Dani Hendrawan (Program Studi Farmasi).
Gagasan tersebut mengantarkan keenamnya meraih medali perunggu pada ajang Japan Design, Idea and Innovation Expo (JDIE) 2026 di Kansai International Airport, Osaka, Jepang. Kompetisi yang diselenggarakan oleh World Invention Intellectual Property Associations (WIIPA) itu diikuti 328 proyek inovasi dari 23 negara, mulai dari Indonesia, Jepang, Amerika Serikat, Kanada, Thailand, Taiwan, hingga berbagai negara di Eropa dan Timur Tengah.
Faiz, mahasiswa preklinik semester 6 Fakultas Kedokteran UMS, menjelaskan tim menggarap inovasi bertajuk “PharmaSwift: Reducing Waits, Delivering Care”.
“PharmaSwift ini sebuah sistem berbasis akal imitasi (AI) dan otomasi yang dirancang untuk membantu proses pelayanan farmasi, mulai dari validasi resep, pembagian obat, pengemasan obat, hingga penyampaian informasi obat kepada pasien secara lebih cepat, aman, dan akurat,” ucap dia, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, ide tersebut lahir dari keprihatinan tim soal masih panjangnya waktu tunggu pasien, baik di instalasi farmasi rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya.
“Kami melihat pasien sering kali harus menunggu cukup lama hanya untuk menerima obat setelah selesai berkonsultasi dengan dokter,” imbuh Faiz. Di sisi lain, proses pembagian atau dispensing pun masih banyak dilakukan secara manual meningkatkan risiko medication error, seperti kesalahan dosis, pelabelan, maupun interaksi obat.
Faiz menambahkan, tenaga farmasi juga masih disibukkan dengan pekerjaan yang bersifat repetitif sehingga waktu untuk memberikan edukasi kepada pasien menjadi terbatas.
“Kami percaya teknologi seharusnya tidak menggantikan tenaga kesehatan, tetapi membantu mereka agar dapat lebih fokus pada pengambilan keputusan klinis dan pelayanan kepada pasien,” katanya.

Berangkat dari persoalan tersebut, tim mengembangkan PharmaSwift melalui serangkaian studi literatur dan observasi terhadap alur pelayanan farmasi di fasilitas kesehatan. Setelah itu, mereka melakukan diskusi lintas disiplin untuk merancang sistem yang tetap mempertahankan peran penting apoteker dalam proses pelayanan.
Dalam konsep yang dikembangkan, dokter terlebih dahulu membuat resep elektronik yang kemudian divalidasi oleh apoteker menggunakan sistem berbasis AI. Setelah lolos verifikasi, obat disiapkan, dikemas, dan diberi label secara otomatis. Pasien kemudian memperoleh obat beserta QR code yang memuat informasi penggunaan obat secara lengkap.
Tak hanya itu, PharmaSwift juga dilengkapi fitur smart inventory. Memungkinkan pemantauan stok serta masa kedaluwarsa obat secara real time sehingga meningkatkan efisiensi pengelolaan farmasi.
Ikhtiar Panjang Tim
Proses menuju panggung internasional juga tak berlangsung singkat. Kompetisi diawali dengan registrasi melalui laman resmi WIIPA, dilanjutkan pengunggahan abstrak, deskripsi inovasi, dan poster ilmiah.
Setelah lolos seleksi administrasi, peserta menerima Letter of Acceptance (LoA) dan diundang mempresentasikan inovasinya secara langsung di hadapan dewan juri. “Pada tahap presentasi, peserta harus menjelaskan latar belakang masalah, kebaruan inovasi, manfaat, potensi implementasi, hingga menjawab berbagai pertanyaan teknis dari para juri mengenai pengembangan teknologi tersebut,” cerita Faiz.
Bagi dirinya, pengalaman mengikuti JDIE 2026 menjadi lebih dari sekadar kompetisi. Faiz mewakili timnya mengaku memperoleh banyak pelajaran tentang riset, inovasi, sekaligus kesempatan membangun jejaring dengan inovator dari berbagai negara.
“Kompetisi seperti ini sangat berharga karena tidak hanya melatih kemampuan riset dan inovasi, tetapi juga memperluas wawasan serta jaringan internasional. Ke depan kami tentu ingin terus mengikuti kompetisi serupa dengan membawa inovasi yang memiliki dampak nyata bagi dunia kesehatan,” tutur dia.
Faiz dan tim berharap PharmaSwift tak hanya berhenti sebagai prototipe atau karya kompetisi semata. “Semoga inovasi yang kami kembangkan dapat terus disempurnakan hingga suatu saat benar-benar dapat diimplementasikan di rumah sakit maupun fasilitas pelayanan kesehatan sehingga mampu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” tandasnya. (GE)