Keingintahuan membawa seseorang ke tempat-tempat yang tak pernah diduga. Bagi Aswa Arsa Kumala, mahasiswi Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS), rasa penasaran itu justru bermula dari dua boneka kecil di sebuah stan pameran teknologi kesehatan di Thailand.
Awal 2026, Asa, sapaan akrabnya, mengikuti Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) 2026 dalam rangka Thailand Inventors Day. Di sela-sela pameran, matanya tertuju pada sebuah stan milik Thailand Biomedical Engineering (Thai BME).
“Awalnya saya mendatangi booth mereka karena lihat ada boneka lucu. Ternyata untuk mendapatkannya harus menjawab lima pertanyaan tentang teknologi pulse oximeter. Alhamdulillah saya bisa menjawab semuanya dan katanya saya satu-satunya yang berhasil hari itu,” kenangnya sumringah kala ditemui awal Juli.
Keesokan harinya, Asa kembali lagi ke stan yang sama. Kali ini ia mengincar boneka kedua. Lagi-lagi ia berhasil menjawab seluruh pertanyaan dan pulang ke Indonesia membawa dua boneka sekaligus.

“Saya pulang bukan cuma bawa boneka, tapi juga ilmu dan teman baru. Kami bertukar Instagram dan masih berhubungan sampai sekarang,” imbuh mahasiswi semester 1 itu. Dari rekannya itulah Asa akhirnya mengetahui adanya kompetisi Biomedical Engineering International Innovation Fair (BMEIIF) 2026.
Informasi itu yang kemudian mengantarkan Asa menjadi finalis Biomedical Engineering International Innovation Fair (BMEIIF) 2026. Ia akan mewakili FK UMS pada babak final yang berlangsung di Fukuoka, Jepang, Oktober mendatang.
Tentang Inovasi
Asa malaju ke babak final dengan inovasi bertajuk “GROWELL: A Low-Cost IoT-Integrated Smart Pediatric Anthropometry Platform for Real-Time Growth Surveillance and Early Stunting Detection”. GROWELL dirancang agar terjangkau masyarakat dan bisa diterapkan di negara berkembang yang masih bergulat dengan persoalan stunting.
“Saya memilih topik ini karena angka stunting di negara berkembang masih tinggi. Biasanya inovasi teknologi itu mahal, padahal negara berkembang membutuhkan solusi yang murah tetapi tetap efektif. Karena itu kami mencoba menghadirkan inovasi yang lebih terjangkau,” jelasnya.
GROWELL merupakan pengembangan dari inovasi pengabdian masyarakat yang ia kerjakan bersama dosen FK UMS, Dr. dr. Yusuf Alam Romadhon, M.Kes., Sp.KKLP., FISQua., FISPH., FISCM. Inovasi berbasis Internet of Things (IoT) tersebut mampu mengintegrasikan alat ukur antropometri dengan sistem berbasis web, sehingga proses pemantauan pertumbuhan anak menjadi lebih akurat dan dapat dilakukan secara real time.
Tak hanya mencatat tinggi dan berat badan anak, inovasi tersebut juga dilengkapi materi edukasi bagi ibu hamil sebagai upaya mencegah stunting sejak masa kehamilan. “Stunting sebenarnya harus dicegah bahkan sebelum anak lahir. Karena itu web yang kami buat juga menyediakan kelas untuk ibu hamil sehingga edukasi bisa dilakukan lebih komprehensif,” imbuh Asa.
Belajar Bisnis demi Meyakinkan Juri
Perjalanan menuju babak final ternyata tak hanya mengandalkan kemampuan ilmiah. Asa mengaku harus mempelajari aspek bisnis yang sebelumnya belum terlalu ia kuasai.
Dalam kompetisi tersebut, peserta dinilai dari enam aspek, mulai dari signifikansi masalah, kreativitas inovasi, proses pengembangan, manfaat bagi pengguna, potensi bisnis, hingga kekayaan intelektual. Asa mengaku tantangan terbesar justru bukan terletak pada sisi ilmiahnya, melainkan saat harus menjelaskan potensi bisnis dari inovasi yang dikembangkan.
“Saya harus belajar lagi soal Total Addressable Market (TAM), Serviceable Available Market (SAM), dan Serviceable Obtainable Market (SOM) supaya proyeksi pasarnya masuk akal,” ujarnya jujur.
Pun ini pertama kalinya Asa membuat pitch deck secara mandiri. Berbekal pengalaman mengikuti kompetisi bisnis internasional sebelumnya, ia akhirnya mampu merancang materi presentasi yang dinilai menarik dan meyakinkan dewan juri.
Bagi Asa, pencapaiannya bukan hasil kerja seorang diri. Ia menyebut dukungan para dosen dan lingkungan FK UMS menjadi salah satu faktor yang membuatnya terus berani mengikuti kompetisi internasional.
“FK UMS selalu suportif, baik secara material maupun nonmaterial. Inovasi ini juga lahir dari kolaborasi dosen dan mahasiswa. Saya juga selalu ingat wejangan dari Bu Dekan Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.DVE., Dipl.STD-HIV/AIDS., FINSDV., FAADV. Bahkan moto hidup saya sekarang adalah per aspera ad astra (menuju bintang melalui jerih payah) yang terinspirasi dari beliau,” tutur bersemangat.
Asa berharap langkahnya menuju Jepang bukan sekadar mengejar prestasi pribadi, melainkan dapat membuka jalan bagi lebih banyak mahasiswa FK UMS untuk berani bersaing di tingkat internasional.
“Saya berharap bisa membawa hasil yang terbaik sekaligus mengharumkan nama FK UMS. Semoga semakin banyak mahasiswa yang terinspirasi sehingga FK UMS terus mampu bersaing, baik di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya. (GE)