Surakarta – Pengembangan institusi pendidikan kedokteran membutuhkan perencanaan matang, komitmen terhadap mutu, serta kesiapan berbagai aspek akademik dan tata kelola. Berbagi pengalaman dalam membangun pendidikan kedokteran menjadi langkah penting untuk memperkuat kualitas calon institusi kedokteran di Indonesia.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Program Studi Kedokteran Universitas Muria Kudus yang digelar di Universitas Muria Kudus, Jumat (21/8/2026).
Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.DVE., Dipl.STD-HIV/AIDS., FINSDV., FAADV., hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Selain menjabat sebagai Dekan FK UMS, Flora juga merupakan Wakil Ketua 2 Pengurus Pusat Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI).
Dalam forum tersebut, Flora berbagi pengalaman mengenai proses pendirian, pengelolaan, hingga pengembangan institusi pendidikan kedokteran. Berbagai aspek strategis menjadi pembahasan, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, tata kelola akademik, pemenuhan standar pendidikan kedokteran, hingga pentingnya membangun sistem pendidikan yang berkelanjutan.
Menurut Flora, pendirian program studi kedokteran tidak hanya berorientasi pada pembukaan institusi baru, tetapi harus memastikan adanya komitmen jangka panjang dalam menghasilkan dokter yang kompeten dan berintegritas.
“Pendidikan kedokteran memiliki tanggung jawab besar karena berkaitan langsung dengan kualitas layanan kesehatan masyarakat. Karena itu, setiap institusi perlu memastikan kesiapan dari berbagai aspek agar proses pendidikan berjalan dengan standar mutu yang baik,” ujar Flora.
Ia menjelaskan, pengembangan Program Studi Kedokteran dan Program Pendidikan Profesi Dokter (PPD) memerlukan sinergi antara perguruan tinggi, rumah sakit pendidikan, tenaga pendidik, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kesiapan infrastruktur, kurikulum berbasis kompetensi, sistem penjaminan mutu, hingga penguatan budaya akademik menjadi faktor penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan kedokteran yang berkualitas.
FGD tersebut menjadi ruang bagi Universitas Muria Kudus untuk memperoleh gambaran dan perspektif mengenai berbagai tantangan sekaligus peluang dalam pengembangan pendidikan kedokteran. Diskusi juga mendorong pertukaran pengalaman antar-institusi agar proses pengembangan program studi dapat dilakukan secara terarah.
Flora menyampaikan kolaborasi antarinstitusi pendidikan kedokteran menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan kedokteran nasional.
“Melalui berbagi praktik baik, kita dapat saling belajar dan memperkuat jejaring pendidikan kedokteran. Tujuannya bukan hanya membangun institusi, tetapi memastikan lulusan yang dihasilkan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan masyarakat,” pungkasnya. (GE)