Surakarta – Di balik upaya menekan angka kasus kusta, deteksi dini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pelayanan kesehatan. Penyakit yang sebenarnya dapat disembuhkan ini masih kerap ditemukan dalam kondisi terlambat karena keterbatasan pengetahuan, stigma masyarakat, hingga keterlambatan pasien memeriksakan diri.
Berangkat dari persoalan tersebut, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) turut mengambil peran dalam meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan melalui kegiatan bertajuk “Peningkatan Kapasitas Petugas dalam Upaya Penemuan Kasus dan Tata Laksana Penyakit Kusta” di Puskesmas Pajang, Surakarta, Kamis (20/8/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Dekan FK UMS, Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.DVE., Dipl. STD-HIV/AIDS., FINSDV., FAADV., sebagai narasumber. Selain memimpin FK UMS, Flora juga menjabat sebagai Wakil Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen Indonesia (KSMHI), organisasi yang berfokus pada pengembangan ilmu dan layanan terkait penyakit kusta.
Dalam pemaparannya, Flora membahas berbagai aspek penanganan kusta, mulai dari deteksi dini, penegakan diagnosis, tata laksana pasien, pencegahan kecacatan, hingga surveilans kontak sebagai upaya memutus rantai penularan.
Flora menjelaskan kusta masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius. Menurutnya, keterlambatan diagnosis sering kali menyebabkan kecacatan permanen yang sebenarnya dapat dicegah apabila kasus ditemukan lebih awal.
“Deteksi dini menjadi kunci dalam penanggulangan kusta. Semakin cepat penyakit dikenali dan diobati, semakin besar peluang pasien sembuh tanpa mengalami kecacatan maupun penurunan kualitas hidup,” ujar dia.
Ia menambahkan, penanganan kusta tak hanya berfokus pada pemberian terapi, tetapi juga harus memperhatikan aspek psikososial pasien dan keluarganya. Stigma yang masih melekat di masyarakat sering menjadi hambatan bagi penderita untuk memeriksakan diri maupun menjalani pengobatan secara tuntas.
“Kita harus membangun pelayanan yang humanis dan bebas stigma. Pasien kusta adalah individu yang harus didampingi, diedukasi, dan didukung agar tetap percaya diri menjalani pengobatan. Peran keluarga dan tenaga kesehatan sangat penting dalam proses tersebut,” kata Flora.

Dalam kesempatan itu, peserta juga mendapatkan pembaruan mengenai tata laksana penyakit kusta sesuai perkembangan ilmu kedokteran, termasuk langkah-langkah pencegahan kecacatan melalui pemeriksaan rutin fungsi saraf dan edukasi perawatan diri bagi pasien.
Flora menuturkan kegiatan peningkatan kapasitas ini sejalan dengan pendekatan kedokteran keluarga yang diterapkan FK UMS, yakni memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dengan memperhatikan pasien, keluarga, dan lingkungan tempat tinggalnya.
“Melalui kolaborasi seperti ini kami berharap tenaga kesehatan di layanan primer semakin siap menemukan kasus sejak dini, memberikan penanganan yang tepat, sekaligus melakukan edukasi kepada masyarakat,” jelasnya. Dengan demikian, kualitas hidup pasien dapat dipertahankan dan angka kecacatan akibat kusta dapat terus ditekan.
Melalui keterlibatan dalam kegiatan tersebut, FK UMS kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung peningkatan kapasitas tenaga kesehatan sekaligus berkontribusi dalam penguatan pelayanan kesehatan masyarakat. Sinergi antara perguruan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan mampu menghadirkan layanan yang ilmiah, humanis, dan berkelanjutan bagi masyarakat. (GE)