Kedokteran

Benarkah Homoseksual Lebih Berisiko Terjangkit IMS?

ditulis pada
09 Juni 2026

Kasus homoseksual di Solo mencuat setelah muncul laporan masyarakat terkait dugaan aktivitas transaksi seksual sesama pria di kawasan Taman Sriwedari. Informasi tersebut bahkan mendapat perhatian dari aparat pemerintah daerah yang mengaku telah melakukan pemantauan rutin terhadap lokasi tersebut.

Pewartaan Tribun Jateng menyebutkan, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surakarta Didik Anggono telah lama memantau kawasan Taman Sriwedari dan sekitarnya. Menurutnya, aktivitas yang diduga berkaitan dengan transaksi seksual sesama laki-laki kerap terjadi pada malam hari sehingga pengawasan dilakukan secara tertutup maupun terbuka.

“Sudah sejak lama kami pantau. Memang tempat itu kita lihat sebagai tempat transaksi, kemudian aktivitasnya di luar gitu. Jadi memang malam antara jam 10.00 sampai jam 12.00-an,” ungkap Didik, dikutip dari Tribun Jateng, Senin (8/6/2026).

Keresahan masyarakat memunculkan berbagai tanggapan di media sosial yang mengaitkan fenomena tersebut dengan masalah kesehatan. Terlebih jika dilihat dari meningkatnya kasus HIV dan infeksi menular seksual.

Dilansir dari web Kemkes.go.id, data terbaru menunjukkan Indonesia menempati peringkat ke-14 dunia dalam jumlah orang dengan HIV (ODHIV) dan peringkat ke-9 untuk infeksi baru HIV. Diperkirakan terdapat sekitar 564.000 ODHIV pada tahun 2025, namun baru 63 persen yang mengetahui statusnya.

Sementara laporan lama Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat, sepanjang 2022 terdapat 52.955 kasus infeksi HIV di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 27,54 persen atau 14.589 kasus HIV terkait dengan faktor risiko homoseksual.

Homoseksual sebagai orientasi seksual, menurut Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.DVE., Dipl. STD-HIV/AIDS., FINSDV., FAADV., bisa menjadi penyebab penularan infeksi menular seksual dalam konteks tertentu.

“Konteks yang saya bicarakan ini berkaitan dengan perilaku yang berisiko terhadap kesehatan. Apabila suatu tempat atau kawasan menjadi sarana terbentuknya jejaring sosial yang kemudian berujung pada aktivitas seksual berisiko, maka hal tersebut memang harus menjadi perhatian dari perspektif kesehatan masyarakat,” jelas Flora, Jumat (5/6/2026).

Penyimpangan sosial yang terjadi di kawasan Sriwedari tak bisa dibiarkan begitu saja. “Dari sudut pandang epidemiologi, semakin luas jejaring seksual seseorang, maka semakin besar pula peluang terjadinya penularan infeksi menular seksual apabila terdapat perilaku berisiko,” ungkap dosen Fakultas Kedokteran UMS itu.

Penyimpangan Sosial dan Risiko Kesehatan

Risiko yang dimaksud Flora, di antara lain berganti-ganti pasangan seksual, hubungan seksual tanpa pengaman, tidak mengetahui status kesehatan pasangan, tidak melakukan pemeriksaan berkala, hingga penggunaan narkoba tertentu yang dapat meningkatkan perilaku seksual berisiko.

“Yang perlu menjadi fokus adalah perilaku pencegahan dan akses terhadap layanan kesehatan,” imbuhnya.

Kaum homoseksual atau gay menjadi salah satu kelompok yang sering dibahas dalam program pencegahan HIV. Berdasarkan data surveilans HIV nasional yang dibeberkan Flora, kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) termasuk populasi kunci dengan prevalensi HIV yang jauh lebih tinggi dibanding populasi umum.

Flora menjelaskan prevalensi HIV pada populasi umum Indonesia diperkirakan sekitar 0,3 hingga 0,4 persen. Sementara pada kelompok LSL, prevalensinya mencapai sekitar 17,9 persen berdasarkan estimasi tahun 2019.

“Bahkan sejumlah surveilans sebelumnya menunjukkan peningkatan prevalensi HIV yang cukup tajam, dari sekitar 8 persen pada 2007 menjadi lebih dari 30 persen pada kelompok yang diteliti pada tahun 2015 pada kelompok LSL yang diteliti,” beber Flora.

Penyakit menular seksual, seperti HIV memang masih menjadi tantangan kesehatan dunia. Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya pencegahan terhadap perilaku menyimpang yang berisiko mempercepat penularan infeksi.

Homoseksual terbukti jadi salah satu kelompok secara epidemiologis tercatat memiliki kontribusi signifikan dalam statistik kasus HIV di sejumlah negara. Data global dari Centers for Disease Control and Prevention mengungkap adanya 31.800 infeksi HIV di Amerika Serikat pada tahun 2022. Sebesar 71 persen (22.500 kasus) terjadi pada kelompok pria gay dan biseksual. Bahkan 86 persen menyadari status kesehatan mereka.

Penyebab HIV dari Perilaku Homoseksual

“Penularan HIV yang paling berisiko malah berkaitan dengan faktor epidemiologis dan perilaku. Secara biologis, hubungan seksual anal tanpa proteksi memiliki risiko transmisi HIV yang lebih tinggi dibandingkan beberapa bentuk hubungan seksual lainnya,” terang Flora.

Flora menjelaskan, secara medis jaringan mukosa pada area anus lebih rentan mengalami luka mikro saat berhubungan seksual. Kondisi tersebut dapat mempermudah masuknya virus HIV ke dalam tubuh ketika hubungan seksual dilakukan tanpa proteksi.

Penularan HIV sangat dipengaruhi oleh perilaku seksual seseorang. Salah satu faktor risiko terbesar adalah berganti-ganti pasangan seksual dan pasangan yang tak saling tahu status kesehatan pasangannya.

“Semakin banyak pasangan seksual yang dimiliki seseorang, semakin besar pula kemungkinan terpapar infeksi yang mungkin tidak menunjukkan gejala,” paparnya.

“Gejala HIV pada pria ini kan seringkali nggak disadari karena pada fase awal infeksi banyak penderita tidak menunjukkan keluhan. Mereka tetap terlihat sehat dan bisa beraktivitas normal padahal semestinya mendapatkan penanganan,” ucap Flora.

Flora menegaskan apabila tren kasus HIV dan IMS terus meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu yang terinfeksi, tetapi juga oleh masyarakat secara luas. Dari sisi kesehatan, peningkatan kasus dapat memicu bertambahnya HIV stadium lanjut, AIDS, infertilitas, gangguan kehamilan, hingga sifilis kongenital pada bayi.

Dari sisi ekonomi, biaya pelayanan kesehatan akan meningkat dan produktivitas masyarakat dapat menurun akibat sakit berkepanjangan. Sementara dari sisi sosial, meningkatnya stigma terhadap kelompok tertentu justru berpotensi menghambat upaya pencegahan dan pengobatan.

Terkait pemantauan aparat terhadap lokasi transaksi seksual kaum gay atau homoseksual di Solo, Flora menilai positif upaya tersebut sebagai penertiban. Namun dari perspektif kesehatan masyarakat, ia menekankan pentingnya penguatan langkah-langkah preventif melalui edukasi dan penyuluhan sehingga siapapun lebih memahami berbagai risiko kesehatan yang timbul akibat perilaku menyimpang ini. (GE)

Artikel Terkait

Gagas Biomarker Osteoporosis, Mahasiswa FK UMS Raih Juara Lomba Esai Ilmiah Nasional

Surakarta – Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim yang beranggotakan Zahirah Mentari Supriyono dan Rahma Cloudita Puspita Dewi berhasil meraih Juara II pada Lomba Esai Ilmiah MAJESTYNAS. Kompetisi yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta. Dalam kompetisi tersebut, keduanya mengangkat karya ilmiah berjudul “Proposed Mechanism: Potensi […]

FGD FK UMS dan Syukuran Akreditasi Internasional FK UMS

Surakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) menggelar acara Focus Group Discussion (FGD) dan tasyakuran pada Jumat (26/6/2026) di lingkungan kampus UMS. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk syukur atas dua pencapaian monumental yang baru saja diraih oleh institusi. Prestasi pertama adalah keberhasilan FK UMS meraih akreditasi internasional dari Indonesian Accreditation Agency for Higher […]

Perkuat Literature Review, FK UMS dan FK UMMat Manfaatkan Rayyan AI

Surakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Mataram (FK UMMat) menyelenggarakan pelatihan Praktik Rayyan AI untuk Literature Review secara daring, Jumat (26/6/2026). Kegiatan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dosen dalam memanfaatkan akal imitasi (AI) untuk mendukung penyusunan kajian pustaka yang lebih efektif, sistematis, dan berbasis bukti. Pelatihan […]