Tak selamanya kuliah kedokteran harus berkarier di bidang pelayanan medis. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Fakih Nur Salimi Latief, membuktikannya dengan berkarier di bidang manajerial pengelolaan rumah sakit.
Fakih bercerita, ia mulai menekuni bidang manajerial rumah sakit sewaktu bekerja di Rumah Sakit Ibu dan Anak Pala Raya, Tegal, Jawa Tengah, pada 2017 silam. Jabatannya yang ia emban saat itu adalah Wakil Direktur Pelayanan. Tugas utamanya adalah mengawasi departemen klinis untuk memastikan perawatan pasien berkualitas tinggi dan kepatuhan terhadap protokol medis.
“Kebetulan memang rumah sakit ini sedang membutuhkan regenerasi. Jadi saya masuk, tapi tetap mulai dari bawah ya. Mulai jadi dokter instalasi gawat darurat, jadi dokter penanggung jawab rawat inap gitu ya. Jadi tetap melakukan fungsi sebagai dokter fungsional,” kenang pria kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, itu.
Dirinya kemudian mendapatkan kesempatan baru pada 2019 untuk menjabat posisi Direktur RSIA Pala Raya Tegal. Tugasnya kali ini pun memiliki cakupan yang lebih besar. Yakni memimpin rumah sakit dan memberikan arahan strategis untuk operasional rumah sakit, keuangan, dan layanan medis.
Fakih kemudian memutuskan pindah ke Surabaya pada 2022 lantaran urusan keluarga. Senyampang itu, ia memulai karier baru sebagai Wakil Direktur Umum dan Keuangan RS Mata Undaan Surabaya.
Menurutnya, bekerja pada pada bidang manajerial rumah sakit memiliki dampak yang lebih besar. “Tidak cuma person to person, tapi juga merambah ke sistem kesehatan,” imbuh dia.
Kini, ia menjabat sebagai Direktur Operasional PT Bersama Mata Undaan. Tugasnya kali ini adalah mendukung operasi yayasan dalam melakukan ekspansi klinik atau rumah sakit ke sejumlah wilayah di Jawa Timur.
“Yang sekarang mengurusi pengembangan bisnisnya, termasuk yang saat ini sudah jadi itu klinik utama di Sidoarjo, klinik pratama di Pare, Kediri, dan Insya Allah tahun ini sedang direncanakan untuk membuka beberapa klinik mata di beberapa daerah di Jawa Timur,” kata pria lulusan FK UMS tahun 2014 ini.

Aktif Berorganisasi
Semasa menempuh studi di Fakultas Kedokteran UMS pada 2007-2014 silam, Fakih tergolong aktif mengikuti organisasi mahasiswa. Salah satunya adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FK UMS. Fakih aktif sebagai Menteri Riset pada 2008 dan Ketua BEM pada 2009.
Fakih juga aktif di Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) sebagai Sekretaris Wilayah 3 pada 2010. Setahun kemudian, Fakih dipercaya menjabat posisi Sekretaris Jenderal.
Passion manajemen mengalir dalam dirinya. Ia berkelakar, keaktifannya dalam organisasi membuatnya terpaksa menunda studi koas hingga setengah tahun.
“Setelah lulus S1 tidak langsung mengambil gelombang koas karena kebetulan saya diamanahi sebagai Sekjen ISMKI sehingga saya memutuskan untuk mundur sedikit setengah tahunan,” seloroh dia.
Bahkan setelah berkarier di bidang manajerial rumah sakit pun, ia masih aktif dalam sejumlah organisasi. Antara lain Ikatan Dokter Indonesia, Junior Doctors Network Indonesia, hingga Kolegium Dokter Indonesia.
Belajar Membuka Wawasan
Fakih memegang keyakinan bahwa dokter harus mau untuk membuka wawasan pada bidang keilmuan lain di luar ranah medis. Itulah yang mendorongnya mengambil sarjana hukum di Universitas Terbuka pada 2014.
“Belajar hukum itu justru malah niatnya untuk mendukung medisnya. Karena saat itu banyak kasus kriminalisasi dokter, sehingga saya melihat sangat penting seorang dokter untuk mempelajari hukum,” ujar dia.
Setelahnya, Fakih menempuh sejumlah studi magister di beberapa perguruan tinggi. Antara lain Magister Administrasi Kesehatan Universitas Esa Unggul, Magister Hukum Universitas Islam Nusantara, dan Magister Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Harapan Bangsa.
Fakih mengajak mahasiswa dan lulusan kedokteran, khususnya Kedokteran UMS, untuk membuka wawasan lebih luas. Sebab jalur karier yang dapat diambil oleh lulusan kedokteran sangat beragam. Mulai dari praktisi, akademisi, peneliti, bahkan politisi. “Misalkan politisi yang berlatar belakang dokter, maka akan membuat kebijakan yang berpengaruh bagi para dokter,” tuturnya.
Membuka wawasan juga sangat penting agar seorang dokter dapat terus peka terhadap perkembangan zaman. Kehadiran akal imitasi seperti ChatGPT, Gemini, dan sejenisnya, membuat pekerjaan dokter kian menantang.
“Kita akan berhadapan dengan pasien yang mungkin sudah mempunyai kesadaran terhadap kesehatan dirinya. Bahkan tidak menganggap dokter sebagai satu-satunya rujukan ya,” lanjutnya.
Selain peka terhadap perkembangan teknologi, Fakih menyebut kemampuan komunikasi seorang dokter sangat penting untuk dikuasai. Tujuannya agar dapat memberikan penjelasan kepada pasien dari perspektif medis untuk mengimbangi jawaban AI. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap institusi medis dapat terjaga.