Kasus hipertensi di Desa Kolok, Sawahlunto, Sumatra Barat, menjadi perhatian khusus Ilham Hariyadi Rohmatulloh sewaktu menjalani residensi di Puskesmas Kolok. Ketimpangan antara jumlah kasus dengan sirkulasi obat yang keluar memantik keingintahuan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu.
Ilham mengatakan hanya 18-20 persen dari 1.800 sasaran penderita hipertensi yang mengambil obat di Puskesmas Kolok. Imbasnya, penanganan kasus hipertensi belum optimal dan mendapatkan teguran karena target tidak tercapai.
Usut punya usut, banyak faktor penyebab kondisi itu. Mulai dari petugas puskesmas yang tidak bertemu warga secara langsung, ketidakpercayaan masyarakat terhadap pelayanan medis dan obat-obatan, hingga kebiasaan masyarakat yang cenderung memilih pengobatan herbal.
“Alasannya saat petugasnya ke rumah, pasien sedang ke sawah. Terus kami berpikir ke mana bapak-bapak nih ya? Kok nggak ada apakah nggak pernah sakit? Nah ternyata memang mereka juga malas ke puskesmas,” katanya dalam wawancara virtual awal Maret lalu.
Ia pun melakukan jemput bola dengan mengunjungi rumah-rumah warga. Ilham dan tim Puskesmas Kolok juga menganalisis kebiasaan masyarakat setempat. Salah satunya adalah kebiasaan nongkrong di warung pada sore hari yang dilakukan oleh bapak-bapak desa.
Tim kemudian menyambangi warung dan berjumpa dengan bapak-bapak tersebut. Mereka melakukan sosialisasi dan pengecekan tekanan darah. Aksi ini rupanya mendapat sambutan positif dari para warga.
“Ya ginilah Dok, harusnya ada tuh orang puskesmas ke warung-warung kayak gini, jadi kami kan bisa ngecek kesehatan juga,” tutur Ilham mengulangi perkataan para bapak.
Soal keraguan masyarakat terhadap pelayanan medis, Ilham punya cara jitu. Ia melakukan sejumlah riset lewat jurnal-jurnal medis untuk mencari obat herbal penurun tekanan darah. Salah satu jenis tanaman itu ialah seledri.
Ilham kemudian membujuk para pengidap hipertensi untuk menjajal daun seledri. “Namun tetap dikombinasikan dengan obat dari puskesmas,” tambahnya. Hasilnya, warga yang mulanya enggan berobat, kini mulai memeriksakan diri secara sukarela.
Program tersebut kemudian ia namakan Jempol Sakti. Sebuah akronim dari Jemput Bola Sasaran Kolok dengan Hipertensi.
Hasilnya pun cukup menggembirakan. Dari 18-20 persen pasien yang mau berobat, jumlahnya melonjak hingga 55 persen. Walhasil risiko gangguan hipertensi dapat berkurang karena semakin banyak warga yang mau berobat.
Pada 2023 lalu, Ilham mendaftarkan program Jempol Sakti besutannya ke dalam program tenaga kesehatan teladan. Sebuah program kompetisi di bawah Kementerian Kesehatan yang bertujuan untuk mengapresiasi kinerja nakes di Indonesia.
Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, Ilham berhasil meraih juara pertama Tenaga Kesehatan Teladan Dokter Puskesmas Provinsi Sumatra Barat. Ia pun sempat melaju ke tingkat nasional. “Qadarullah baru bisa sampai ke peringkat lima besar nasional,” kata dia.

Terus Belajar dan Berkelana
Pria asal Sukoharjo, Jawa Tengah, tak ingin menghabiskan kuliah hanya dengan mempelajari ilmu kedokteran. Saat menginjak semester tujuh, Ilham memutuskan mengambil kuliah Sarjana Hukum di Universitas Islam Batik Surakarta (Uniba). “Pagi kuliah di UMS, sore sampai malamnya di Uniba,” kenangnya.
Ilham mengamini keputusannya saat itu terbilang nekat. Apalagi kuliah di jurusan hukum berbeda 180 derajat dibanding kuliah kedokteran. Kultur kuliah hukum, kata dia, lebih sosialis dibanding kuliah kedokteran.
“Ilmu kedokteran sama ilmu sosial tuh beda, orangnya pun beda, lingkungannya pun beda. Tapi di situ aku bisa mendapatkan nyaman yang berbeda. Enak rasanya ketemu sama orang-orang baru, orang-orang sosial yang nggak pernah aku temui di FK,” imbuhnya.
Mengejar kuliah ganda tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi selepas lulus dari FK UMS pada 2015, Ilham harus menjalani coass di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Hardjono Ponorogo, Jawa Timur, yang membuat kuliah ilmu hukumnya tersendat. Beruntung dirinya berhasil menamatkan kuliah hukumnya pada 2017.
Sebagai dokter muda, keinginannya untuk mengabdi di luar Jawa sangatlah menggebu. Berbekal restu ibundanya, Ilham mengambil magang di RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti di Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Pengalaman magang ini membuka matanya mengenai sulitnya medan di wilayah terpencil. Apalagi kalau harus merujuk ke RSUD di pusat pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara di Tenggarong. Waktu yang ditempuh dari Samboja ke Tenggarong bisa mencapai empat jam melalui perjalanan darat.
“Yang membedakan itu adalah jarak. Dari Tenggarong ke Samboja itu empat jam. Terus merujuk tuh dari puskesmas ke rumah sakit itu bisa empat jam lima jam,” jelas dia.
Lebih kurang dua tahun menjalani magang, Ilham kembali ke Tanah Jawa untuk meminang pujaan hatinya. Ia kemudian menjalani residensi di Puskesmas Kolok, Sawahlunto, Sumatra Barat, selama delapan tahun.
Ilham kemudian melanjutkan studi di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi di Universitas Andalas Padang. Ia pun menjalani residensi anestesi di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Ilham selalu menanamkan komitmen dalam dirinya untuk meluruskan niat sebelum memulai pelayanan di masyarakat. Ia percaya sifat rendah hati harus dikedepankan agar dapat menghargai dan mau belajar dari masyarakat lokal.
Di sisi lain, ia juga berkomitmen untuk terus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Baginya, banyak rumpun keilmuan lain yang dapat dipelajari agar memperkaya khazanah pengetahuan seorang dokter.
Pesan-pesan Kiai Haji Ahmad Dahlan yang menjadi nilai-nilai Muhammadiyah terus ia pegang bahkan selepas lulus dari UMS. “Jangan lupakan juga mungkin sebagai warga Muhammadiyah itu kita tidak boleh meninggalkan juga kalau pesan Ahmad Dahlan kan hidupkanlah Muhammadiyah hidupilah Muhammadiyah tapi jangan berharap hidup dari Muhammadiyah,” tandasnya.