Surakarta – Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Pertemuan Ilmiah Regional (PIR) Perhimpunan Dokter Forensik dan Medikolegal (PDFMI) Joglosepur 2026 yang digelar di Kampus 4 FK UMS, Sabtu (6/6/2026). Dua tim mahasiswa berhasil meraih penghargaan pada kategori presentasi poster ilmiah dengan mengangkat isu forensik dan pendidikan kedokteran berbasis bukti ilmiah.
Prestasi tertinggi diraih Muhammad Najmi Azizi, mahasiswa semester 10 FK UMS, yang meraih Juara Terbaik Pertama Poster Ilmiah melalui karya berjudul “Usia dan Jenis Perdarahan Sebagai Prediktor Mortalitas Pada Cedera Kepala Paska-Kecelakaan Lalu Lintas”. Penelitian tersebut disusun bersama dr. Busyra, M.Sc., Sp.FM., dr. Sa’idatul Fithriyah, M.Sc., dan dr. Nur Mahmudah, M.Sc.

Najmi, sapaan akrabnya, menjelaskan poster yang dibuatnya berusaha menerangkan tingginya angka kematian pada pasien cedera kepala traumatik akibat kecelakaan lalu lintas. Kondisi ini dipengaruhi faktor usia dan jenis perdarahan, terutama perdarahan subdural.
“Kecelakaan lalu lintas masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada penyakit tidak menular. Melalui poster ilmiah ini, saya berharap dapat menjadi sarana edukasi terkait tingkat mortalitas pada cedera kepala akibat kecelakaan lalu lintas dengan berbasis bukti penelitian,” ujarnya saat diwawancarai pada Senin (8/6/2026).
Pemilihan tema Najmi tersebut didasarkan karena ketertarikannya pada bidang kedokteran forensik, sekaligus sebagai upaya mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan kecelakaan lalu lintas.
Sementara itu, prestasi Juara II Presentasi Poster diraih tim mahasiswa semester dua FK UMS yang terdiri dari Aisha Azra Almedina, Rindu Jenar Asmaranti, Anindya Leta Azalia, dan Azka Afkarina Azizah dengan dosen pembimbing dr. Busyra, Sp.FM.

Tim Aisha mengangkat poster berjudul “Tinjauan Etika dan Keislaman Penggunaan Kadaver dalam Pembelajaran Kedokteran di Era Digital”. Dirinya mengatakan topik tersebut dipilih tim karena relevan dengan tahap pendidikan yang sedang mereka jalani sebagai mahasiswa tahun pertama.
“Poster yang kami susun berupaya mengangkat perspektif etika dan nilai-nilai keislaman dalam penggunaan kadaver sebagai sarana pembelajaran kedokteran di era digital. Kajian ini penting untuk mendukung pendidikan kedokteran yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berlandaskan moral, etika, dan nilai kemanusiaan,” sebut Aisha dalam wawancara yang berbeda.
Aisha juga berharap karyanya dan tim dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus belajar, berkarya, dan memberikan kontribusi positif bagi pengembangan ilmu kedokteran maupun pelayanan kesehatan di masa mendatang. (GE)