Kedokteran

Sayonara Penyakit Kusta

ditulis pada
30 Agustus 2024

Di mata Flora Ramona Sigit Prakoeswa, penyakit kusta masih menjadi masalah kesehatan yang harus dituntaskan. Sebab, Indonesia masih menduduki peringkat ketiga setelah Brazil dan India sebagai negara dengan jumlah penderita kusta terbanyak di dunia. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021 menyebut sebanyak 10.976 orang.

Kusta adalah penyakit yang disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang kulit dan saraf tepi. Bakteri penyebab kusta ditularkan melalui percikan dari hidung dan mulut selama kontak dekat. Menurut WHO, jika tidak diobati, kusta dapat menyebabkan kecacatan progresif dan permanen. Penyakit kusta dapat disembuhkan dengan terapi kombinasi obat.

Perempuan paruh baya yang akrab disapa Flora itu menaruh perhatian pada penyakit kusta. Saat menempuh studi doktoral di Universitas Airlangga, Flora menjadikan kusta sebagai topik disertasinya. Judulnya “Hubungan Disregulasi Imunitas (TH1, TH2, TREG, TH17) dan Status Kesehatan Komunitas dengan Kejadian Kusta pada Anak dan Ibu di Daerah Endemis Kusta Tuban”.

Riset yang dilakukan pada 2018 itu bertujuan mencari faktor apa saja yang memengaruhi munculnya penderita penyakit kusta di Tuban, Jawa Timur. Temuannya adalah faktor imunitas juga berpengaruh pada penderita kusta.

“Di Tuban itu, lingkungannya sudah oke dan kumannya sedikit. Tetapi karena ada gangguan imunitas pada ibu dan anak yang tinggal di Tuban, maka mereka rentan terkena kusta,” tutur Flora, Sabtu (17/8/2024).

Dari riset itu, Flora menekankan perempuan yang sedang hamil untuk terus mengonsumsi makanan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Salah satunya adalah makanan yang mengandung probiotik.

“Mau kumannya dihilangkan sampai tujuh kali puasa tujuh kali lebaran atau dunia berhenti berputar-putar, kalau daya tahan tubuh manusianya tidak diperbaiki maka rantai penularan kusta akibat lemahnya imunitas akan tetap ada,” ujar Flora.

Disinggung mengenai rencana selanjutnya, Doktor lulusan Universitas Airlangga itu mengatakan ingin mengembangkan obat probiotik yang aman dikonsumsi ibu hamil agar terhindar dari kusta. Namun, rencananya itu urung dilakukan. “Soalnya keburu jadi dekan,” kelakar dia.

Penderita kusta sangat mudah dikenali melalui ciri fisiknya. Mengutip laman Puskesmas Kuta Selatan, ciri fisik yang menonjol pada penderita kusta, antara lain: Muncul bercak putih seperti panu, biasanya bagian tersebut mati rasa; tonjolan di kulit disertai kulit menebal, kaku, dan kering; muncul bisul yang tidak sakit di telapak kaki; dan ada benjolan atau pembengkakan yang tidak sakit di wajah atau daun telinga.

Kondisi fisik tersebut seringkali berimbas pada kecacatan baik tangan maupun kaki. Tidak heran jika kondisi fisik para penderita kusta malah memunculkan stigma sosial di tengah masyarakat. Flora mafhum akan hal itu. Saat meneliti kusta di Tuban, Flora bertemu dengan pasangan suami istri yang menderita penyakit kusta.

“Jangan bilang ke pasangan saya kalau saya menderita penyakit kusta,” Flora menirukan perkataan mereka. Melihat kondisi itu, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) UMS itu terenyuh. “Padahal mereka ini tinggal serumah. Ini menunjukkan besarnya pengaruh stigma pada penyakit kusta.”

Aktif Bergerak dan Berkarya

Selain mencurahkan perhatian pada penyakit kusta lewat jalur riset, Flora juga aktif dalam Kelompok Studi Morbus Hansen Indonesia (KSMHI) pada 2021 sebagai wakil ketua umum.

KSMHI merupakan kelompok studi di bawah Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) yang berfokus pada penyakit kusta. Tugas utamanya, mengeliminasi kusta di Indonesia.

Upaya yang dilakukan KSMHI meliputi pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, kerja sama, penelitian, dan publikasi. Flora mengatakan KSMHI tidak hanya menjalin kolaborasi dengan dokter dan rumpun kesehatan, tetapi menggandeng pihak lain seperti psikolog, ekonom, hingga agamawan.

“KSMHI ini tidak hanya dokter saja, tetapi juga keperawatan, farmasi, kesehatan masyarakat. Helicopter view-nya lebih ditinggikan lewat kolaborasi berbagai pihak,” tutur Dekan Fakultas Kedokteran UMS itu. “Yang menyuluh jangan hanya dokter kulit dan kelamin saja. Harus disesuaikan dengan sasaran penyuluhannya.”

Di KSMHI, Flora terlibat aktif sebagai pengurus Bidang Kerja Sama pada 2021. Tugasnya saat itu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengeliminasi kusta. Targetnya adalah penambahan nota kesepahaman dengan berbagai pihak. Nota kesepahaman ini akan berpengaruh dengan kinerja dan target setiap divisi dalam KSMHI.

Jauh sebelum bergabung dengan KSMHI, pendiri Klinik Utama Nareswari itu lebih dulu menjadi anggota Perdoski sejak 2009. Selama di Perdoski, Flora berhasil meraih Award of Honorary Mention Fellow of The Indonesian Society of Dermatology and Venereology (FINSDV) pada 2019 dan Award of Honorary Mention Fellow Asian Academy of Dermatology and Venereology (FAADV) pada 2022.

Proses meraih gelar FINSDV dan FAADV terbilang tidak mudah. Serangkaian penilaian harus dilakukan untuk memastikan bahwa Flora layak menyandang titel tersebut. Misalnya, untuk meraih gelar FAADV, Flora harus menjadi spesialis dermatologi dan venereologi selama sepuluh tahun. Kontribusi pada pengabdian masyarakat, penelitian, hingga pendidikan dan pengajaran juga menjadi poin penilaian yang mendukung Flora meraih kedua gelar tersebut.

Dia juga aktif berkontribusi dalam Perdoski, seperti menjadi keynote speaker “Common Skin Infection in Daily Practice” pada 2018 dan sejumlah kegiatan lainnya. Tidak heran jika dirinya dipercaya sebagai Ketua Bidang III Divisi Kerja Sama Perdoski Surakarta.

Perempuan penggemar penulis kondang, Sidney Sheldon, ini juga aktif menelurkan sejumlah buku, antara lain Buku Ajar Kusta (2018), Peran Kualitas Kesehatan Komunitas dan Respon Imun pada Kusta (2019), hingga Memerdekakan Pendidikan dan Membumikan Kepekaan Jiwa Sosial Anak SB (2023).

Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes, Sp.DVE., Dipl. STD-HIV/AIDS., FINSDV., FAADV. Dok.Humas UMS

Terinspirasi Keluarga

Tidak pernah terbesit dalam diri Flora Ramona Sigit Prakoeswa bahwa pencapaiannya selama ini berhasil ia raih seorang diri. Ada banyak uluran tangan yang memboyong Flora meniti tangga kariernya.

Perempuan kelahiran Jember, Jawa Timur, 2 Agustus 1976, itu mendapat banyak inspirasi dari kedua orang tuanya. Flora merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ayahnya merupakan direktur salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jawa Timur.

Flora menceritakan ayahnya merupakan seorang figur family man sejati. Ayah Flora adalah pribadi yang senang jika melihat perempuan meraih pendidikan dan berpikir maju. Tidak heran jika Flora mengatakan setiap langkahnya selalu mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya, terutama ayahnya.

“Ayah saya, karakternya sebelas dua belas dengan suami saya. Keduanya adalah seorang “family man”. Mereka berdua, meskipun kebetulan diamanahi menduduki jabatan top management, selalu ada untuk anak-anaknya,” ujarnya. Flora bersyukur mempunyai ayah dan suami yang demokratis, egaliter, serta senantiasa mendukung perempuan untuk terus maju dalam pendidikan dan karier.

Ia juga senang berkolaborasi dengan banyak orang. Beragam karakter dan latar belakang menjadi tantangan tersendiri bagi Flora saat mengetuai tim riset. Sebab akan menyangkut proses kerja, hingga pengambilan keputusan.

Pengaruh kedua orang tuanya juga membentuk jalan pikiran Flora dalam memecahkan masalah yang melibatkan banyak orang. Baik di lingkungan UMS, maupun di luar UMS, Flora selalu mengedepankan diskusi dan dengar pendapat.

Misalnya saat memimpin tim riset untuk penyakit psoriasis. Flora ditantang untuk memimpin tim yang beranggotakan para pakar dari beberapa instansi dan multidisiplin ilmu. “Ada dari FK Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Sebelas Maret (UNS), UMS, Rumah Sakit UNS, sampai Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya,” terangnya. Proses diskusi menjadi penting untuk menyelaraskan persepsi agar melancarkan penelitian.

Penelitian yang kini tengah berjalan itu, berhasil mendapatkan Hibah Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Capaian itu sangat istimewa bagi Flora, sebab hibah multi years senilai Rp110 juta itu merupakan Hibah DRTPM pertama yang ia raih.

Bagi Flora, memimpin sebuah tim menjadi cara untuk membuka hati dan pikiran. “Orang-orang itu bisa sukses kalau bekerja sama dalam sebuah tim. Jadi open-minded dan open-hearted,” ujarnya.

Berkat kiprahnya selama ini, Flora berhasil meraih predikat Terbaik 1 bidang kesehatan dalam Anugerah Academic Leader Tingkat Lembaga Layanan Perguruan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Tahun 2024 pada Mei lalu. (GD)

Artikel Terkait

Gagas Biomarker Osteoporosis, Mahasiswa FK UMS Raih Juara Lomba Esai Ilmiah Nasional

Surakarta – Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim yang beranggotakan Zahirah Mentari Supriyono dan Rahma Cloudita Puspita Dewi berhasil meraih Juara II pada Lomba Esai Ilmiah MAJESTYNAS. Kompetisi yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta. Dalam kompetisi tersebut, keduanya mengangkat karya ilmiah berjudul “Proposed Mechanism: Potensi […]

FGD FK UMS dan Syukuran Akreditasi Internasional FK UMS

Surakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) menggelar acara Focus Group Discussion (FGD) dan tasyakuran pada Jumat (26/6/2026) di lingkungan kampus UMS. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk syukur atas dua pencapaian monumental yang baru saja diraih oleh institusi. Prestasi pertama adalah keberhasilan FK UMS meraih akreditasi internasional dari Indonesian Accreditation Agency for Higher […]

Perkuat Literature Review, FK UMS dan FK UMMat Manfaatkan Rayyan AI

Surakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Mataram (FK UMMat) menyelenggarakan pelatihan Praktik Rayyan AI untuk Literature Review secara daring, Jumat (26/6/2026). Kegiatan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dosen dalam memanfaatkan akal imitasi (AI) untuk mendukung penyusunan kajian pustaka yang lebih efektif, sistematis, dan berbasis bukti. Pelatihan […]