Surakarta – Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) melalui Program Studi Profesi Pendidikan Dokter menggelar pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau Basic Life Support (BLS) bagi tenaga non-medis di lingkungan UMS. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 19 Juli 2026, di halaman FK UMS Kampus 4 ini menyasar seluruh satuan pengamanan (satpam) dari UMS dan RS UMS, serta anggota Resimen Mahasiswa dan Hisbul Wathan UMS.
Pelatihan ini merupakan bentuk kolaborasi antara FK UMS dengan dua dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang juga merupakan alumni berprestasi, yaitu dr. Bagus Fitriadi Kurnia Putra, Sp.JP, FIHA dan dr. Shigma Putra Mahaley, Sp.JP, FIHA. Kehadiran kedua alumni ini menjadi inspirasi sekaligus bukti nyata bahwa lulusan FK UMS mampu berkontribusi bagi almamater dan masyarakat luas.
Ketua panitia pelaksana menyampaikan bahwa peserta pelatihan merupakan tenaga non-medis karena kasus henti jantung dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, tanpa mengenal usia maupun jenis kelamin. “Pelatihan ini sangat penting agar mereka yang pertama kali menemukan kejadian di luar rumah sakit dapat memberikan pertolongan awal yang tepat. Bantuan awal ini sangat krusial untuk menjaga fungsi organ vital sebelum tim medis tiba dan melakukan tatalaksana lanjutan saat pasien dievakuasi,” jelasnya.
Materi pelatihan mencakup teknik resusitasi jantung paru (RJP), penanganan sumbatan jalan napas, serta penggunaan alat bantu pernapasan dasar. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan langsung prosedur BHD pada manekin di bawah bimbingan para instruktur. Metode praktik langsung ini terbukti efektif untuk meningkatkan keterampilan prosedural peserta, sebagaimana didukung oleh berbagai penelitian yang menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan non-medis setelah mengikuti pelatihan BHD .
Dekan FK UMS dalam sambutannya mengapresiasi inisiatif kolaboratif ini. Beliau menekankan bahwa keterampilan BHD bukan hanya milik tenaga kesehatan, tetapi merupakan kompetensi dasar yang sebaiknya dimiliki oleh setiap orang, terutama mereka yang bertugas di lingkungan dengan risiko tinggi kejadian darurat. “Dengan bekal ini, para satpam dan anggota resimen mahasiswa dapat menjadi ‘first responder’ yang handal dan membantu memperpanjang ‘golden period’ pasien sebelum mendapatkan penanganan medis lanjutan,” ujarnya.
Para peserta terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian pelatihan, dari sesi teori hingga praktik. Salah satu peserta menyampaikan bahwa ilmu yang diperoleh sangat bermanfaat dan menambah rasa percaya diri dalam menjalankan tugas sehari-hari. Kegiatan ditutup dengan simulasi kasus yang menguji pemahaman dan keterampilan peserta secara menyeluruh.
Pelatihan BHD: Kolaborasi FK UMS dan IKADO FK UMS – Pelatihan Bantuan Hidup Dasar untuk Satpam dan Non-Medis
ditulis pada