Surakarta – Deaf Family Solo Raya (DFSR) bersama TBM Gyrus Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) menggelar bakti sosial dalam rangka memperingati Hari Pendengaran Sedunia di De’Tasikmadoe Heritage, Minggu (26/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan layanan kesehatan gratis, edukasi, serta ruang interaksi sosial yang inklusif bagi anak-anak tunarungu dan masyarakat umum.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 hingga 150 peserta. Mereka terdiri dari anak-anak tunarungu, pendamping, panitia, serta masyarakat umum yang turut memanfaatkan layanan kesehatan yang disediakan.
Steering committee kegiatan, Lana Syifaul Aufi Kamila, menjelaskan kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga membangun ruang yang ramah dan bebas stigma bagi anak-anak tunarungu. Menurutnya, kehadiran ruang interaksi yang setara menjadi bagian penting dalam mendorong inklusivitas di masyarakat.
Antusiasme peserta terlihat tinggi, terutama dari keterlibatan aktif komunitas tunarungu sepanjang rangkaian acara. “Teman-teman tunarungu tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga ikut memeriahkan kegiatan melalui berbagai penampilan seperti tarian dan fashion show,” ujar mahasiswa semester 4 tersebut saat dimintai keterangan, Kamis (30/4/2026).
Dalam pelaksanaannya, Lana menyebut TBM Gyrus FK UMS terlibat dalam berbagai aspek teknis kegiatan. “Panitia membantu pendaftaran peserta, mendampingi pemeriksaan kesehatan dasar seperti pengecekan tekanan darah, tinggi dan berat badan, serta gula darah. Selain itu, ada juga yang membantu dokter THT, mulai dari menyiapkan alat hingga mendampingi pemeriksaan,” ujarnya.

Pemeriksaan kesehatan gratis oleh salah satu dosen pendidik klinis Fakultas Kedokteran UMS, Dr.dr.Iwan Setiawan Adji, Sp.THT. Dok. Fakultas Kedokteran UMS
Pemeriksaan kesehatan gratis dalam kegiatan ini didampingi langsung oleh dosen-dosen pendidik klinis Fakultas Kedokteran UMS, salah satunya ialah Dr.dr.Iwan Setiawan Adji, Sp.THT. Keterlibatan dosen bersama mahasiswa ini menjadi sarana pembelajaran langsung dalam pelayanan kesehatan berbasis komunitas.
“Pendampingan kami upayakan terlaksana secara intensif untuk menciptakan suasana yang nyaman, sehingga peserta dapat mengikuti kegiatan tanpa hambatan,” jelas Lana.
Lana menambahkan, momen interaksi sederhana seperti berbincang santai dan berfoto bersama turut mempererat hubungan antara panitia dan peserta. Hal ini dinilai penting untuk membangun rasa percaya diri sekaligus menghapus sekat sosial yang selama ini masih dirasakan oleh sebagian komunitas tunarungu.
Melalui kegiatan ini, panitia berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya inklusivitas, khususnya bagi anak-anak tunarungu. Setiap anak, menurutnya, memiliki hak yang sama untuk berkembang, berinteraksi, dan berkontribusi dalam kehidupan sosial.
Kolaborasi antara DFSR dan TBM Gyrus FK UMS ini juga menjadi bentuk implementasi kedokteran keluarga berbasis komunitas. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa upaya membangun masyarakat inklusif dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni menghadirkan ruang yang terbuka, setara, dan menghargai setiap individu tanpa memandang keterbatasan yang dimiliki. (GE)