Surakarta – Mahasiswi semester 6 Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ainun Ni’mah Syawaliyah, kembali menorehkan prestasi. Ia baru saja menerima penghargaan The Most Publications Medical Student 2026 dari Badan Analisis dan Pengembangan Ilmiah Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI), sebagai bentuk apresiasi atas produktivitasnya menghasilkan publikasi ilmiah.
Sebelumnya, Ainun juga meraih predikat sebagai Mahasiswa Berprestasi I Fakultas Kedokteran UMS dan Mahasiswa Berprestasi III UMS 2026. Ia turut mengoleksi berbagai prestasi kompetisi ilmiah nasional, seperti Juara 1 Literature Review Contest Jenderal Achmad Yani Scientific Competition 2025, Juara 2 Scientific Essay Dies Natalis ISMKI 2025, Juara 2 Lomba Video Edukasi MIDBRAIN UIN Malang 2025, Juara 1 Esai Ilmiah Keagamaan 4th Jember Dentistry Festival 2024, hingga Juara 3 Tirtayasa Medical Public Poster, Essay, and Video Competition 2024.
Deretan piala dan penghargaan tidak pernah menjadi tujuan utama bagi Ainun. Dirinya mengaku terus mengikuti kompetisi ilmiah karena didorong rasa ingin tahu yang besar terhadap berbagai persoalan kesehatan.
“Saya sering penasaran, “Kenapa ini bisa terjadi?” atau “Bagaimana kalau diteliti dari sudut pandang yang berbeda?” Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu lahir banyak ide penelitian maupun karya tulis,” ujar Ainun saat ditemui, Jumat (24/7/2026).
Menurut Ainun, setiap kompetisi menjadi ruang belajar yang mempertemukannya dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Dari sana ia belajar bahwa karya ilmiah tidak hanya dinilai dari kebaruan ide, melainkan juga kemampuan menjawab persoalan secara ilmiah dan mempertahankan argumen berdasarkan bukti.
Menariknya, pengalaman yang paling membekas justru bukan berasal dari kompetisi yang berhasil dimenanginya. Momen itu terjadi ketika ia menjadi finalis Literature Review Competition MMU Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya 2026 melalui penelitian berjudul “Trade-off Sensitivitas dan Spesifisitas dalam Skrining Stroke Pra-Rumah Sakit: Sintesis Bukti Uji Diagnostik (PRISMA-DTA) dan Pemetaan Bibliometrik”.
Penelitian tersebut berhasil menembus babak final setelah menyisihkan puluhan peserta dari berbagai perguruan tinggi. Namun, menjelang presentasi final, terbit guideline klinis terbaru yang mengubah rekomendasi skrining stroke pra-rumah sakit sehingga sebagian pembahasan dalam penelitiannya tidak lagi sepenuhnya sejalan dengan pedoman terkini.
Meski akhirnya hanya menempati peringkat keempat, Ainun menganggap pengalaman tersebut jauh lebih berharga dibandingkan sekadar membawa pulang piala.
“Saya menyadari bahwa penelitian tidak berhenti ketika analisis selesai atau artikel di-submit. Dunia kedokteran berkembang sangat cepat. Evidence yang kuat tetap harus dipertimbangkan bersama guideline terbaru, aspek implementasi di lapangan, dan kondisi sistem pelayanan kesehatan,” katanya.
Ainun mengapresiasi dukungan yang diberikan FK UMS selama ini kepada mahasiswa untuk berkembang melalui organisasi riset, pembinaan kompetisi, pelatihan ilmiah, pendampingan dosen, hingga apresiasi terhadap mahasiswa berprestasi. Menurutnya, lingkungan yang suportif membuatnya lebih percaya diri untuk terus mencoba berbagai tantangan.
Ke depan, ia berharap dapat terus menghasilkan penelitian dan publikasi yang bermanfaat serta membawa nama FK UMS di tingkat nasional maupun internasional.
“Saya berharap apa yang saya kerjakan tidak hanya berhenti menjadi prestasi, tetapi benar-benar bisa memberikan dampak bagi masyarakat. Saya ingin terus belajar, menjaga rasa ingin tahu, dan menghasilkan karya yang bermanfaat,” pungkasnya. (GE)